Rabu, 02 Agustus 2017

Kau Adalah Ujian Dari Dia


Jodoh menurut islam? Seperti apasih jodoh menurut islam itu? Akankah jodoh yang ada menurut islam itu akan datang untuk menghampiriku? Ketika usiaku memasuki 20 tahun, tanpa dengan sengaja aku telah mengenal seorang pria yang berdarah keturunan Tionghoa – Indonesia. Aku mengenalnya tanpa sengaja pada sebuah acara edukasi. Ketika itu dia menjadi L.O untuk teamku. Dia yang saat itu berusia 5 tahun lebih tua dariku merupakan salah satu teman dosenku ketika berkuliah disekolah pasca sarjana. Dari situlah aku mengenalnya.

Sejak awal pertama untuk mengenalnya, feelingku sudah selalu mengatakan bahwa dia itu pasti tidak seiman denganku. Melihat parasnya yang sangat oriental semakin membuatku yakin bahwa dia tak seiman denganku. Karena sangat jarang sekali, orang dengan paras seperti itu, beragama muslim seperti diriku. Singkat cerita, beberapa bulan setelah acara itu berakhir aku sering berkomunikasi dengannya. Seperti wanita normal pada umumnya, lama – lama aku pun mulai menyukainya. Namun, aku mencoba untuk menahannya dan menjaga jarak dengannya. Sebab, aku tahu aku dan dia berbeda keyakinan dia bukan seorang muslim. Aku pun tidak ingin terjerumus kedalam dosa dunia, dan aku pun tidak ingin menimbulkan fitnah diantara kami berdua, apalagi dengan perbedaan keyakinan yang kami pegang dan jalani.

Tapi yang namanya godaan dunia akan selalu ada menghampiri, semakin aku tahan semakin sakit rasanya dan dia pun begitu. Dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan. Dia pernah mengatakan padaku kalau dia benci jika perbedaan menjadi alasan untuk bersama. Dan aku juga sempat berfikir apakah ini jodoh menurut islam? Namun, sekali lagi pikiran buruk itu aku elakkan. Yang aku inginkan adalah pria yang seiman denganku yang bisa menjadikan ku menjadi wanita muslimah yang lebih baik lagi. Dan yang ku tunggu juga adalah jodoh menurut islam. Aku tau, mungkin itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan terutama dengan banyaknya godaan duniawi. Namun, dengan keyakinan ku kepada Allah SWT, aku yakin bahwa Allah akan menunjukkan jalan terbaik kepadaku saat ini.

Baca juga :

Aku sadar saat itu bukan lah jodoh menurut agama islam yang di maksudkan. Dia adalah ujian dari Allah untukku. Aku pun pernah merasakan yang namanya baper atau bawa perasaan ( meminjam istilah anak muda zaman sekarang ) saat itu setiap aku mendengar lagu berbahasa Korea yang dia sukai, karena aku hanya memiliki 1 lagu bahasa Korea yaitu lagu kesukaan dia, seketika aku mengingat dia dan lagi – lagi aku merasakan sakit karena aku memendam rasa ini aku tahan rasa ini. Entah mengapa aku bisa sampai merasakan hal itu. Mungkin karena aku telah meyukai nya dan memendam perasaan kepadanya. Namun, sekali lagi aku tahu, ini adalah skenario Allah terhadapku. Entah apa rencana-Nya untukku mempertemukannya dengan dia yang berbeda keyakinan denganku sampai aku mempunyai “ rasa “ terhadapnya. Saat itu aku memutuskan untuk tidak pacaran dan aku lebih memilih untuk menunggu jodoh menurut islam. Jujur, aku pun pernah untuk berpacaran sebelumnya dan juga setelah itu aku memutuskan untuk lebih mencintai seseorang hanya dalam diam saja. Sakit memang rasanya ketika harus seperti itu. Namun, aku percaya bahwa jodoh menurut islam sudah Allah siapkan untukku. Aku yakin, doa dan cinta yang ku pendam dalam diam ini akan berbuah manis suatu saat nanti.

Dan sampai saat suatu hari, karena aku akan tetap untuk mempertahankan argumenku untuk tidak pacaran dengannya yang berbeda keyakinan. Dia pun akhirnya “ pamit “ dan memilih untuk memutus silaturahmi denganku sampai saat ini. Saat itu aku merasa seperti orang bodoh dan menyesal karena tak sempat mengatakan padanya bahwa aku pun menyukainya aku sempat menyesal karena tidak mengatakannya. Namun, ternyata kini setelah semuanya berlalu aku baru sadar bahwa Allah sedang menguji pendirianku dan mendatangkan dia sebagai ujiannya. Aku jadi teringat sebuah kata mutiara yang mengatakan bahwa, “ sebagian orang datang kehidup kita adalah sebagai anugrah dan sebagian lagi memberi pelajaran. Terimalah keduanya.”

Teringat dalam kata mutiara itu, aku telah sadar bahwa dia yang datang kepadaku adalah sebagai untuk pemberi pelajaran. Terutama pelajaran untuk tetap mempertahankan keyakinanku dan pendirianku. Sebab, selama aku mengenalnya dia banyak bercerita kepadaku tentang keyakinan yang dianutnya bahkan dia pun pernah menunjukkan isi kitab sucinya kepadaku. Aku tak pernah tahu apa maksudnya seperti itu. Tapi aku selalu bersyukur karena aku telah berhasil untuk melewati “ ujian “ dari rasa cintaku untuk kepadanya. Ujian dimana saat aku lulus test untuk membuktikan bahwa dialah bukan jodoh menurut agama islam yang telah Allah SWT untukku.

Sebab aku berpikir, jika aku terus – terusan dekat dengan dia sedang dia bukanlah mahramku dan terlebih Tuhan kita berbeda Tuhanku adalah Allah sedang dia bukan, dan jelas lah bahwa dia benar – benar memang bukan jodoh menurut islam bagi diriku. Aku takut jika nantinya aku tak dapat mengendalikan rasaku ini, aku takut terlalu larut dalam perasaan yang menurutku rasa yang salah. Aku hanya takut aku semakin menyanyanginya dan mencintainya. Hal itu yang aku takutkan, dan aku pun harus mengikhlaskannya walau memang tak mudah bagiku yang masih menyimpan rasa terhadapnya. Sekarang aku telah sadar, bahwa dialah yang cukup menawan dengan segala kebaikannya dan juga prestasinya, merupakan sebuah “ ujian “ dari Allah untukku. Dan dia datang kepadaku untuk sebuah pelajaran. Pelajaran tentang sebuah pilihan. Pilihan antara keimanan dan keegoan.


Dari sinipun juga aku belajar untuk lebih sabar lagi dalam menunggu jodoh menurut islam, untuk lebih mencintai Allah, dan juga untuk lebih mengutamakan Allah. Aku selalu berharap dan berdoa semoga aku selalu diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapi dan melewati berbagai ujian hidup yang datang menghampiriku. Aku tau, dengan adanya ujian ini Allah ingin untuk memberitahukan kepadaku bahwa Allah menyayangi dan mencintaiku. Aku percaya Allah SWT juga akan selalu memberikan yang terbaik kepada semua umat yang berdoa dan percaya hanya kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar