Jodoh menurut islam? Seperti apasih jodoh menurut islam itu? Akankah jodoh yang ada menurut islam itu akan
datang untuk menghampiriku? Ketika usiaku memasuki 20 tahun, tanpa dengan sengaja
aku telah mengenal seorang pria yang berdarah keturunan Tionghoa – Indonesia.
Aku mengenalnya tanpa sengaja pada sebuah acara edukasi. Ketika itu dia menjadi
L.O untuk teamku. Dia yang saat itu berusia 5 tahun lebih tua dariku merupakan
salah satu teman dosenku ketika berkuliah disekolah pasca sarjana. Dari situlah
aku mengenalnya.
Sejak awal pertama untuk mengenalnya,
feelingku sudah selalu mengatakan bahwa dia itu pasti tidak seiman denganku.
Melihat parasnya yang sangat oriental semakin membuatku yakin bahwa dia tak
seiman denganku. Karena sangat jarang sekali, orang dengan paras seperti itu,
beragama muslim seperti diriku. Singkat cerita, beberapa bulan setelah acara
itu berakhir aku sering berkomunikasi dengannya. Seperti wanita normal pada
umumnya, lama – lama aku pun mulai menyukainya. Namun, aku mencoba untuk
menahannya dan menjaga jarak dengannya. Sebab, aku tahu aku dan dia berbeda
keyakinan dia bukan seorang muslim. Aku pun tidak ingin terjerumus kedalam dosa
dunia, dan aku pun tidak ingin menimbulkan fitnah diantara kami berdua, apalagi
dengan perbedaan keyakinan yang kami pegang dan jalani.
Tapi yang namanya godaan dunia
akan selalu ada menghampiri, semakin aku tahan semakin sakit rasanya dan dia
pun begitu. Dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan. Dia
pernah mengatakan padaku kalau dia benci jika perbedaan menjadi alasan untuk
bersama. Dan aku juga sempat berfikir apakah ini jodoh menurut islam?
Namun, sekali lagi pikiran buruk itu aku elakkan. Yang aku inginkan adalah pria
yang seiman denganku yang bisa menjadikan ku menjadi wanita muslimah yang lebih
baik lagi. Dan yang ku tunggu juga adalah jodoh menurut islam. Aku tau,
mungkin itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan terutama dengan banyaknya
godaan duniawi. Namun, dengan keyakinan ku kepada Allah SWT, aku yakin bahwa
Allah akan menunjukkan jalan terbaik kepadaku saat ini.
Baca juga :
Aku sadar saat itu bukan lah
jodoh menurut agama islam yang di maksudkan. Dia adalah ujian dari Allah
untukku. Aku pun pernah merasakan yang namanya baper atau bawa perasaan ( meminjam
istilah anak muda zaman sekarang ) saat itu setiap aku mendengar lagu berbahasa
Korea yang dia sukai, karena aku hanya memiliki 1 lagu bahasa Korea yaitu lagu
kesukaan dia, seketika aku mengingat dia dan lagi – lagi aku merasakan sakit
karena aku memendam rasa ini aku tahan rasa ini. Entah mengapa aku bisa sampai
merasakan hal itu. Mungkin karena aku telah meyukai nya dan memendam perasaan
kepadanya. Namun, sekali lagi aku tahu, ini adalah skenario Allah terhadapku.
Entah apa rencana-Nya untukku mempertemukannya dengan dia yang berbeda
keyakinan denganku sampai aku mempunyai “ rasa “ terhadapnya. Saat itu aku
memutuskan untuk tidak pacaran dan aku lebih memilih untuk menunggu jodoh
menurut islam. Jujur, aku pun pernah untuk berpacaran sebelumnya dan juga setelah
itu aku memutuskan untuk lebih mencintai seseorang hanya dalam diam saja. Sakit
memang rasanya ketika harus seperti itu. Namun, aku percaya bahwa jodoh
menurut islam sudah Allah siapkan untukku. Aku yakin, doa dan cinta yang ku
pendam dalam diam ini akan berbuah manis suatu saat nanti.
Dan sampai saat suatu hari,
karena aku akan tetap untuk mempertahankan argumenku untuk tidak pacaran
dengannya yang berbeda keyakinan. Dia pun akhirnya “ pamit “ dan memilih untuk
memutus silaturahmi denganku sampai saat ini. Saat itu aku merasa seperti orang
bodoh dan menyesal karena tak sempat mengatakan padanya bahwa aku pun
menyukainya aku sempat menyesal karena tidak mengatakannya. Namun, ternyata
kini setelah semuanya berlalu aku baru sadar bahwa Allah sedang menguji pendirianku
dan mendatangkan dia sebagai ujiannya. Aku jadi teringat sebuah kata mutiara
yang mengatakan bahwa, “ sebagian orang datang kehidup kita adalah sebagai
anugrah dan sebagian lagi memberi pelajaran. Terimalah keduanya.”
Teringat dalam kata mutiara itu,
aku telah sadar bahwa dia yang datang kepadaku adalah sebagai untuk pemberi
pelajaran. Terutama pelajaran untuk tetap mempertahankan keyakinanku dan
pendirianku. Sebab, selama aku mengenalnya dia banyak bercerita kepadaku
tentang keyakinan yang dianutnya bahkan dia pun pernah menunjukkan isi kitab
sucinya kepadaku. Aku tak pernah tahu apa maksudnya seperti itu. Tapi aku selalu
bersyukur karena aku telah berhasil untuk melewati “ ujian “ dari rasa cintaku untuk
kepadanya. Ujian dimana saat aku lulus test untuk membuktikan bahwa dialah
bukan jodoh menurut agama islam yang telah Allah SWT untukku.
Sebab aku berpikir, jika aku
terus – terusan dekat dengan dia sedang dia bukanlah mahramku dan terlebih
Tuhan kita berbeda Tuhanku adalah Allah sedang dia bukan, dan jelas lah bahwa
dia benar – benar memang bukan jodoh menurut islam bagi diriku. Aku takut jika
nantinya aku tak dapat mengendalikan rasaku ini, aku takut terlalu larut dalam
perasaan yang menurutku rasa yang salah. Aku hanya takut aku semakin
menyanyanginya dan mencintainya. Hal itu yang aku takutkan, dan aku pun harus
mengikhlaskannya walau memang tak mudah bagiku yang masih menyimpan rasa
terhadapnya. Sekarang aku telah sadar, bahwa dialah yang cukup menawan dengan
segala kebaikannya dan juga prestasinya, merupakan sebuah “ ujian “ dari Allah
untukku. Dan dia datang kepadaku untuk sebuah pelajaran. Pelajaran tentang
sebuah pilihan. Pilihan antara keimanan dan keegoan.
Dari sinipun juga aku belajar
untuk lebih sabar lagi dalam menunggu jodoh menurut islam, untuk lebih
mencintai Allah, dan juga untuk lebih mengutamakan Allah. Aku selalu berharap
dan berdoa semoga aku selalu diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapi dan
melewati berbagai ujian hidup yang datang menghampiriku. Aku tau, dengan adanya
ujian ini Allah ingin untuk memberitahukan kepadaku bahwa Allah menyayangi dan
mencintaiku. Aku percaya Allah SWT juga akan selalu memberikan yang terbaik
kepada semua umat yang berdoa dan percaya hanya kepadanya.
